<-----"www.gunadarma.ac.id/"----->
<-----"www.gunadarma.ac.id/"----->

Senin, 07 Februari 2011

10 BANGUNAN YANG TIDAK JADI DI BANGUN

10. Hotel Attraction Designed in 1908 for New York City

Hotel Attraction maunya menjadi gedung tertinggi di New York pada saat itu. Didesign oleh Antoni Gaudi, tinggilnya adalah 360 meter, dan tampaknya sangat tak mungkin pada waktu itu. Sedikit sekali fakta yang diketahui tentang proyek ini sampai ketika tahun 1956, sebuah buku berjudul The NEw World Called Gaudi diterbitkan. Tidak jelas mengapa proyek ini dihentikan.

9. The Illinois Designed in 1956 for Chicago Illinois

The Illinois tadinya akan menjadi pencakar langit setinggi 1.609 meter yang divisikan oleh Frank Lloyd Wright. Wright percaya bahwa bangunan ini mungkin dibuat, pada waktu itu. Design nya terdiri dari 528 tingkat, dengan luas daerah kotor 18,46 kaki persegi. Masalah yang timbul adalah ruang yang diperlukan untuk mendirikan pencakar langit itu kurang, dan terbatasnya lift (elevator) yang diperlukan. Hal itulah yang akhirnya menggagalkan proyek ini.

8. Fourth Grace / The Cloud Designed in 2002 for Liverpool England

Walaupun banyak orang yang menganggap kalau Fourth Grace adalah proposal terjelek, Arsitek Will Alsop memenangkan penghargaan design untuk proyek yang dinamakannya The Cloud ini. Proyek ini diberhentikan karena masalah dana yang membludak untuk membangun design spiral yang mahal. Fourth Grace didesign untuk kantor, 107 kamarhotel, dan 50000 sq ft fasilitas termasuk bar, restaurant, dan gallery.

7. Beacon of Progress Designed around 1891 for Chicago Illinois

Rencananya adalah sebuah menara batu setinggi 457 meter di Jackson Park, Chicago. Design yang memenangkan penghargaan ini dikemukakan oleh Professor MIT Dsir Despradelle, seorang Prancis. Dengan lebih banyak dukungan dana, bangunan ini bisa jadi bangunan buatan manusia tertinggi di dunia saat itu.

6. Ville Contemporaine Designed in 1922 for Paris France

The Ville Contemporaine tadinya hendak dijadikan tempat tinggal bagi 3 juta penduduk. Ville ini dikemukakan oleh arsitek Swiss-Prancis Le Corbusier. Bagian tengah bangunan ini direncanakan adalah sekelompok pencakar langit 60 tingkat yang dibangun dengan logam baja dan diselubungi oleh dinding kaca. Digunakan untuk kantor dan apartemen. Tidak jelas mengapa proyek ini dihentikan.

5. Tatlins Tower Designed around 1917 for St. Petersburg Russia

Tatlins Tower kalau jadi dibangun, akan membuat Eiffel Tower terkesan mini. Rencananya, bangunan ini terbuat dari besi, kaca, dan baja. Menara ini tadinya akan dijadikan simbol modernitas. Bentuk utama menara ini adalah twin helix yang naik secara spiral sampai tinggi 400m, dimana orang2 bisa ditransportasikan ke atas, melalui jalur itu.

4. Shimizu Mega-City Pyramid Designed in 2004 for Tokyo Japan

The Shimizu Mega-City Pyramid adalah sebuah piramid buatan raksasa di Tokyo Bay, Jepang. Struktur itu 12 kali lebih tinggi dari Piramid Giza, dan mampu menampung 750.000 manusia. Itu akan menjadi hasil bangunan manusia yang terbesar sepanjang sejarah.

Piramid ini sebenarnya dibangun dengan 55 piramid yang lebih kecil dan saling ditumpuk. Masing2 piramid kecil ini besarnya sebanding dengan LuxorHotel di Las Vegas. Alasan proyek ini tak bisa dibangun adalah karena design mega piramid ini tergantung akan material canggih yang ringan namun sungguh kuat, yang pada saat itu masih belum ada.

3. Volkshalle (The Great Dome) Designed around 1930 for Berlin German

The Volkshalle (Peoples Hall) adalah sebuah bangunan monumental yang direncanakan oleh Adolf Hitler dan arsiteknya Albert Speer. Ia tadinya akan menjadi bangunan paling impresif dan penting di Berlin, sebagai tanda kehebatan Hitler. Untungnya, bangunan ini tidak jadi didirikan karena perang.

2. Palace of Soviets Designed in 1933 for Moscow Soviet Union

Jika Palace of Soviets jadi dibangun, ia akan menjadi struktur tertinggi di dunia. Konstruksi yang dipelopori oleh Boris Iofans ini sebenarnya sudah dimulai di tahun 1937 dan diberhentikan karena invasi Jerman. Tahun 1942, bahan besi nya digunakan untuk membuat jembatan.

1. Ultima Tower Designed in 1991 for San Francisco Californi


Design ini tampaknya sungguh tidak mungkin (liat saja ilustrasi proyeknya diatas), tapi sebaliknya, sangat keren jika bisa dibuat. Arsitek Eugene Tsui mendapat ide bangunan ini dari hasil belajarnya di San Fransisco. Struktur ini akan menggunakan energi hasil konversi energi atmosferik dengan cara mengubah energi yang dihasilkan perbedaan tekanan udara dari atas dan bawah bangunan ini menjadi energi listrik. Bangunan ini memiliki 500 lantai (2 mil tingginya) dan diharapkan menjadi tempat tinggal sekitar 1 juta penduduk.
Continue Reading...

10 BANGUNAN TERTINGGI

10. Jin Mao Tower (Shanghai)

Jin Mao Tower 10 pencakarlangit tertinggi di dunia Jin Mao Tower harfiah. “Golden Prosperity Building” merupakan landmark 88-cerita supertall pencakar langit di daerah Lujiazui distrik Pudong Shanghai, Republik Rakyat Cina. Ini berisi kantor-kantor dan hotel Shanghai Grand Hyatt. Sampai tahun 2007 ini menjadi bangunan tertinggi di RRC, yang tertinggi kelima di dunia dengan ketinggian atap dan tertinggi ketujuh dengan tinggi puncak.
lalui artstyleonline


9. Trump International Hotel dan Tower (Chicago)

The Trump International Hotel dan Tower 9 gedung tertinggi di dunia. The Trump International Hotel dan Tower, juga dikenal sebagai Trump Tower Chicago dan lokal sebagai Trump Tower, adalah kondominium-hotel pencakar langit di pusat kota Chicago, Illinois. Bangunan, dinamai pengembang real estate Donald Trump, dirancang oleh arsitek Adrian Smith dari Skidmore, Owings and Merrill. Bovis Pinjamkan Sewa membangun struktur 92 lantai, yang mencapai ketinggian 1.389 kaki (423 m) termasuk puncak menara tersebut, atapnya topping keluar pada 1.170 kaki (360 m).

Hal ini berdekatan dengan cabang utama Sungai Chicago, dengan pemandangan entri ke Danau Michigan di luar rangkaian jembatan di atas sungai. Bangunan ini menerima publisitas ketika pemenang musim pertama dari acara televisi Apprentice, Bill Rancic, memilih untuk mengelola pembangunan menara.

8. West Tower Guangzhou (Guangzhou)

Menjadi bangunan tertinggi Guangzhou Barat 8 Tower adalah sebuah bangunan publik yang sangat tinggi. Efisiensi energi evaluasi façade yang harus berbeda dibandingkan dengan bangunan umum biasa. Berdasarkan GB50189 kode nasional-2005, “Desain Standar untuk efisiensi Energi Bangunan Publik”, khas tahunan data meteorologi untuk Guangzhou digunakan dan direvisi sesuai dengan karakter arsitektur Guangzhou Tower Barat.

Efisiensi energi desain fasad kulit tunggal dan dinding aliran udara tirai aktif dianalisis dengan alat simulasi energi dinamis dan data cuaca dimodifikasi. Masa pengembalian investasi awal dalam sistem fasad dievaluasi berdasarkan hasil simulasi. Selain itu, hasil konfirmasi skema sistem façade Guangzhou Tower Barat.

7. Willis Tower (Chicago)

Willis Tower, sebelumnya bernama Sears Tower, adalah 108-cerita 1.451 kaki (442 m) pencakar langit di Chicago, Illinois. Pada saat penyelesaian pada tahun 1973, itu adalah gedung tertinggi di dunia, melebihi menara World Trade Center di New York. Saat ini, Willis Tower adalah gedung tertinggi di Amerika Serikat dan kelima struktur berdiri bebas tertinggi di dunia serta bangunan tertinggi kelima di dunia untuk atap. Meskipun hak Sears ‘penamaan berakhir pada tahun 2003, bangunan terus disebut Sears Tower selama beberapa tahun.

Namun, Maret 2009 broker asuransi yang berbasis di London Willis Group Holdings, Ltd, setuju untuk menyewakan sebagian bangunan dan memperoleh hak penamaan bangunan sebagai bagian dari perjanjian.Pada tanggal 16 Juli 2009, jam 10:00 Central Time, bangunan itu secara resmi berganti nama menjadi Willis Tower.

6. Nanjing Greenland Keuangan Pusat (Nanjing)

Nanjing Greenland Financial Center adalah, 89-cerita 450 meter (1500 kaki) tinggi pencakar langit yang dibangun di Nanjing, Cina. Menara adalah bangunan tertinggi kelima di dunia dan kedua tertinggi di cina belakang lantai observasi Keuangan Dunia Shanghai Center.The 72-cerita, di 287 meter (940 kaki) dari tanah, akan menawarkan pemandangan panorama kota Nanjing serta Sungai Yangtze, yang Ningzheng Ridge gunung dan dua danau di dekatnya.

5. Petronas Towers (Kuala Lumpur)

Menara Kembar Petronas (juga dikenal sebagai Petronas Tower atau hanya Twin Towers), di Kuala Lumpur, Malaysia adalah menara kembar dan gedung tertinggi di dunia, sebelum dikalahkan oleh Taipei 101. Namun, menara masih merupakan bangunan kembar tertinggi di dunia. Mereka adalah gedung tertinggi di dunia 1998-2004 jika diukur dari tingkat pintu masuk utama ke atas struktural, referensi tinggi asli yang digunakan oleh Dewan berbasis di AS pada Bangunan Tinggi dan Urban Habitat dari 1969 (tiga kategori tinggi tambahan diperkenalkan sebagai menara hampir selesai tahun 1996).

4. Pusat Perdagangan Internasional (Hong Kong)

Pusat Perdagangan Internasional adalah lantai 118, 484 m (1590 ft) dalam pembangunan gedung pencakar langit di West Kowloon, Hong Kong, sebagai bagian dari proyek Union Square dibangun di atas Kowloon Station. Pembangunan ini dimiliki dan bersama-sama dikembangkan oleh MTR Corporation Limited dan Sun Hung Kai Properties, metro operator Hong Kong dan pengembang properti terbesar masing-masing.

3. Shanghai World Financial Center (Shanghai)

Shanghai World Financial Center adalah sebuah pencakar langit super tinggi di Pudong, Shanghai, Cina. Ini adalah pencakar langit menggunakan campuran yang terdiri dari perkantoran, hotel, ruang konferensi, deck observasi, dan pusat perbelanjaan di lantai tanah.Park Hyatt Shanghai adalah hotel yang mengandung komponen 174 kamar dan suite.Menempati 79 ke lantai 93, itu adalah hotel tertinggi di dunia, melebihi Grand Hyatt Shanghai di 53 untuk 87 lantai dari tetangga Jin Mao Tower.

2. Taipei 101 (Taipei)



Taipei 101 juga dikenal sebagai Taipei Financial Center, adalah sebuah pencakar langit landmark yang terletak di Distrik Xinyi, Taipei, Taiwan. Bangunan adalah gedung tertinggi di dunia (dengan lantai occupiable) sampai ia melampaui tinggi oleh Khalifa Burj pada tanggal 21 Juli 2007. gedung pencakar langit ini secara resmi bangunan tertinggi sampai pembukaan Khalifa Burj pada 4 Januari 2010.

1. Burj Khalifa (Dubai)

Burj Khalifa sebelumnya dikenal sebagai Burj Dubai, adalah sebuah pencakar langit di Dubai, Uni Emirat Arab, dan struktur buatan manusia tertinggi yang pernah dibangun, di 828 m (2717 ft).Konstruksi dimulai pada tanggal 21 September 2004, dengan bagian luar struktur diselesaikan pada tanggal 1 Oktober 2009. Bangunan ini resmi dibuka pada tanggal 4 Januari 2010. Bangunan ini merupakan bagian dari pembangunan kapal 2 km2 (490-acre) disebut Downtown Burj Khalifa di “First Interchange” di sepanjang Sheikh Zayed Road, di dekat distrik bisnis utama Dubai.

Total biaya untuk proyek Burj Khalifa adalah sekitar US $ 1,5 miliar. Arsitektur menara dan rekayasa yang dilakukan oleh Skidmore, Owings, dan Merrill Chicago. Adrian Smith, yang bekerja dengan Skidmore, Owings and Merrill sampai dengan tahun 2006, adalah arsitek kepala, dan Bill Baker adalah insinyur struktur kepala untuk proyek ini. Kontraktor utama adalah Samsung C & T Korea Selatan, yang juga membangun Taipei 101 dan Petronas Twin Towers.

Continue Reading...

Jumat, 07 Januari 2011

8 Bangunan Dengan Atap Hijau Luar Biasa

1. GENO Haus, Stuttgart, Germany
Di bangun pada tahun 1969 dan disponsori oleh pemerintah. Terbuat dari styrofoam dasar. Atap hijau ini tetap berfingsi sampai direnovasi dan perbaikan di tahun 1990. German adalah negara yang pertama kali mengunakan atap hijau ini dan sampe skrg memimpin kemajuannya sampai saat ini, dengan perkiraan rumah” di Jerman 10%nya adalah atap hijau.

2. Nine Houses, Dietikon, Switzerland:
Set sembilan rumah yang dibangun pada tahun 1993 oleh arsitek Peter Vetsch, terbuat dari beton dan dibuat di dalam bumi dan rumput. rumah ini mengingatkan dengan rumah hobbit(manusia kerdil) modern.

3. The Solaire, New York, United States:
Dibangun pada tahun 2003 dengan dua atap hijau oleh designer Rafael Pelli dan seorang perancang arsitek lansekap, Diana Balmori. The Solaire adalah bangunan hunian hijau pertama di Amerika Utara. Penduduk yang tinggal di daerah komersil akan memiliki kesempatan untuk mencoba oasis atap yang indah sesaat mereka pulang ke rumah setiap hari.

4. Fukuoka Prefectural International Hall, Japan:
Emilio Ambasz menemukan rumah untuk 100.000 meter persegi taman dalam bentuk 15 teras ke atas di sebuah gedung pemerintah di Jepang. Atap hijau ini memiliki fitur 35.000 tanaman yang mewakili 76 spesies yang berbeda. Sebuah jendela kantor di gedung ini akan membuat Anda melihat yang terbaik dari kota.

5. Historial de la Vendée in Les-Lucs-sur-Boulogne, France:

Hampir dua hektar ruang hijau yang menampilkan spesies” asli Perancis digabungkan ke atap Historial de la Vendée di Perancis. Museum ini dibuka pada bulan Juni 2006.

6. Chicago City Hall, United States:

Salah satu contoh dari atap hijau yang dibangun di Amerika Serikat adalah yang ada di atas Chicago City Hall. Meskipun atap biasanya tidak dapat diakses oleh publik, pandangan dari bangunan sekitarnya mengungkapkan pola yang terorganisasi yang sesuai dengan simetri bangunan arsitektur.

7. California Academy of Sciences, United States:

San Franscsco sudah seharusnya memasukan bangunan ini kedalam salah satru tour nya. kunungan ke bangunan dengan 2,5 hektar atap hijau di california Academy Science. Akademi mengklaim kalau bangunan ini hemad energy sekitar 30-35% dalam penggunaan listriknya.




8. School of Art and Design, Singapore:

Kalau kita mendapatkan kesempatan untuk belajar disini, apakah kalian akan menolaknya??Lengkungan atap rumput hijau di atas Bangunan kaca ini membuat kita dapat belajar dengan nyaman sekali

Continue Reading...

10 Bangunan Dengan Desain Langit-langit Spektakuler

Allen Lambert galleria, Toronto:
adalah santiago calatrava,arsitektur yang bertangung jawab dibalik kemegahan desain atapnya allan lambert galleria.di desain pada tahun 1980 an.


Baha’i house of Worship, Illinois:
interior dari baha’i house of worship di wilmet didesain oleh alfred shaw.dari desain kubahnya sudah dapat mencerminkan kemegahan bangunannya.


Erzurum holy mosque, eastern Anatolia:
mesjid yang terletak di kawasan anatolia utara,turki awalnya di desain pada tahun 1179.namun sejak di rekonstruksi dan di dilakukan penggabungan arsitektur pada kubahnya,hasilnya sungguh menakjubkan.


Mosteiro dos Jerónimos, Lisbon:
joão de Castilh adalah arsitek spanyol yang mendesain atap nya jerónimos monastery,pada tahun 1500.hasilnya adalah unsur2 gothic yang masterpice.


Alcazar of Seville:
ruangan duta besar memiliki kubah yang fenomenal di alcazar of seville,dibangun pada tahun 1427.

The Senedd, Cardiff:
desain langit2 yang menggunakan kayu,dibentuk seperti gelombang2 di padang pasir.di desain oleh richard rogers,arsitek yang juga dipilih untuk mendesain rekonstruksi tower 3 world trade center

Temppeliaukio church, Helsinki:
‘gereja batu’ ini selesai dibangun pada tahun 1969,setelah di pahat dari batuan granit.atapnya dibuat dari tembaga dan di desain oleh the suomalainen bersaudara.



Tokyo international forum, Tokyo:
desain atap yang menakjubkan menggunakan besi dan kaca di forum internasional tokyo,di desain oleh rafael vinoly pada tahun 1996.



British museum’s great court, London:
the british museum’s great court dibuka pada tahun 200 dan di desain oleh norman foster.yang membuatnya menakjubkan adalah atapnya yang ditutupi oleh kaca sebanyak 6100 m persegi.

Dc metro station, Washington:
arsitek yang berasal dari chicago,harry yang berrtanggung jawab mendesain washington metro system pada tahun 1976.keunikan arsitekturnya terletak pada dinding dan atapnya.mengagumkan
Continue Reading...

Senin, 08 November 2010

Profesionalisme Seorang Arsitek

Arsitek Indonesia Menghadapi Dunia Dalam Proses Pembangunan

Arsitektur adalah sebuah disiplin ilmu yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia dan bagaimana ia berhubungan dengan lingkungannya. Dalam hal ini, ilmu arsitektur dipandang telah ada bahkan sejak dahulu kala, sebelum Vitruvius dinyatakan sebagi arsitek di Roma pada masanya. Karena pada masyarakat tradisional sebelum itu pun, pengetahuan membangun telah dialihkan secara turun temurun dari generasi ke generasi sebagai sebuah proses berkelanjutan, hal ini mungkin lebih kerap disebut-sebut sebagai arsitektur vernakular.

Namun pendidikan formal arsitek sendiri, yang menghasilkan profesional di bidang arsitektur baru muncul pada saat menjelang abad revolusi industri mulai dikenal. Dalam perjalanan sejarah, pendidikan profesi ini sering disatukan dengan pendidikan seni rupa.

Selain itu, ilmu arsitektur juga merupakan perpaduan antara ilmu seni dan teknik bangunan yang memenuhi keinginan praktis dan ekspresif dari peradaban manusia dari zaman ke zaman. Kita dapat melihat dari literatur sejarah bagaimana hampir semua masyarakat yang telah hidup menetap memiliki keteknikan membangun tersendiri yang akhirnya menghasilkan arsitektur mereka. Dari sini, arsitektur kemudian dianggap penting bagi kekayaan sebuah kebudayaan karena bukan hanya tentang melakukan pertahanan terhadap lingkungan alam saja, tetapi juga terhadap lingkungan manusia, arsitektur kemudian menjadi prasyarat dan simbol dari perkembangan peradaban dari kebudayaan tersebut. Kali ini tidak akan diperdebatkan apakah ilmu arsitektur merupakan ilmu seni atau ilmu teknik, dan mencoba mengkompromikan kedua sisi tersebut. Ide Vitruvius tentang venustas (keindahan), firmitas (keterbangunan) dan utilitas(fungsi)nya disampaikan sebagai penegasan terhadap perdebatan tersebut.

biaya-arsitekOleh karena itu, arsitek tidak hanya semata-mata seorang ahli bangunan saja, ia juga merupakan seorang profesional yang memahami betul pembangunan secara luas. Hal ini yang menyebabkan akhirnya terdapat banyak tuntutan yang dihadapkan kepada seorang calon arsitek dan perlu dipenuhinya agar ia dapat secara profesional menjadi arsitek.

Arsitektur sebagai sebuah bidang profesi, banyak berhubungan dengan beberapa isu penting dalam kehidupan masyarakat saat ini, misalnya seperti pengeksplorasian cara-cara baru dalam berkehidupan, penelitian terhadap teknologi-teknologi dan material baru and meyakinkan bahwa apa yang dibangun oleh si arsitek telah berkelanjutan terhadap lingkungan. Tetapi berbicara secara umum tentang profesi arsitektur, ia mencakup bagaimana merancang sesuatu yang dapat digunakan dengan baik oleh manusia namun tidak lupa juga tetap diindah dipandang secara visual.

Hal tersebut di atas menandakan bahwa seorang arsitek harus mempelajari ranah yang cukup luas untuk menguasai berbagai macam kemampuan yang berkaitan dengan pemenuhan tuntutan terhadap dirinya dalam perjalanannya menuju profesi arsitektur, meski kemudian harus melintasi dan berdiri di atas batas antara ilmu seni dan ilmu sains.

Profesi arsitek seperti telah disebutkan sebelumnya, telah ada sejak zaman Mesir dan Yunani Kuno. Vitruvius merupakan salah satu yang terbaik yang dikenal sebagai arsitek dari Romawi dengan aspek teorinya terhadap profesi ini bahwa pemahaman tentang liberal arts cukup penting bagi arsitek sebagai ilmu lanjutan bagi teknologi bangunan. Sehingga banyak arsitek di masa ini yang berlatar belakang dari pengrajin, seniman, tukang kayu, atau tukang batu yang turut serta dalam sebuah proses konstruksi pembangunan. Kemudian perkembangan profesi ini terus dilanjutkan di Abad Pertengahan, baik di Barat maupun Timur. Tetapi teori Vitruvius pada praktik arsitektur di masa ini tidak lagi digunakan, melainkan diganti dengan teori bahwa arsitek adalah seorang master-builder, seorang yang benar ahli dalam masalah membangun. Perubahan ini secara mendasar tidak merubah poin mendasar dari tugas utama yang dilakukan oleh arsitek, dan begitu pula hingga saat ini, yaitu melakukan konsepsi dan pengawasan terhadap pembangunan suatu bangunan.

Untuk dapat melakukan pekerjaan utamanya mulai dari mengonsepkan rancangannya hingga membangun rancangan tersebut, terdapat beberapa pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang arsitek. Dalam proses perancangan saja, isu-isu yang dipertimbangkan bukan hanya saja term-term yang disebutkan oleh Vitruvius: venustas, firmitas, dan utilitas, melainkan juga isu mengenai dimensi-dimensi yang berkaitan pada manusia, seperti dimensi sosial misalnya. Selain itu isu lingkung alam di tempat bangunan itu akan dibangun juga merupakan satu hal yang perlu diperhatikan. Pada tahap perancangan ini, arsitek harus dapat membayangkan bagaimana ruang dan tempat yang akan dibangun ini dapat memberikan baik kenyamanan maupun perlindungan bagi penghuninya, bagaimana arsitektur yang dirancangnya dapat memberikan pengaruh baik terhadap bagaimana manusia berkehidupan, dll. Setelah pengonsepan terhadap ruang dan fungsi, perhatian dicurahkan pada pemilihan sistem struktur yang dipilih untuk digunakan ketika merancang. Dan tentu saja pengetahuan tentang sistem-sistem utilitas yang akan bekerja pada bangunan tersebut juga merupakan satu hal yang perlu diketahui dengan baik oleh seorang arsitek.

arsitekSebagai penelur para calon arsitek, institusi pendidikan formal arsitektur hingga saat ini memang masih terus berusaha mencari format yang tepat, baik dari metode pendidikannya maupun dari bentuk institusi pendidikannya sendiri. Masih tentang apa yang harus dipelajari dalam arsitektur, apa yang bisa didapatkan dari pendidikan arsitektur, dan bagaimana sejauh mana pendidikan dapat mengantarkan para mahasiswa calon arsitek ke dunia profesi arsitektur merupakan sedikit dari beberapa pertanyaan kuno untuk ilmu yang berbasis baik di sosial maupun keteknikan ini.

Menilik pada kajian-kajian yang dilakukan oleh Niels Prak dan Roger Lewis, ternyata banyak permasalahan yang diutarakan oleh seorang arsitek setelah ia memasuki dunia profesi arsitektur yang sesungguhnya, permasalahan yang sebenarnya pun dipengaruhi pula oleh sistem pendidikan yang mereka alami sebelumnya. Lewis memaparkan ada beberapa tipe arsitek setelah mereka menjalani dunia arsitekturalnya, dari tipe arsitek yang memiliki semangat enterpreneurship sampai arsitek bertipe artist dan poet-philosophers yang menguatkan diri pada basis tradisi seni dan interpretasinya, sebagai pengayaan khazanah arsitektur. Di lain kesempatan, Prak hanya memaparkan dua tipe arsitek yaitu arsitek yang praktisi atau fungsionalis dan arsitek yang artis atau pembaharu. Kemudian diambillah kesimpulan bahwa seorang arsitek sejati sesungguhnya merupakan gabungan antara kedua tipe arsitek tersebut; seraya mampu memanifestasikan pemikiran tersebut ke dalam bentuk nyata yang dapat diterima oleh masyarakat.

Namun pola pendidikan arsitektur yang bercita-cita melahirkan arsitek ideal tersebut kemudian menjadi dilematis, antara pendidikan arsitektur yang menampung sisi pendidikan praksis arsitektural dan pengayaan teori arsitektur. Untuk menyelesaikan kedilematisan ini, perlu diadakan sebuh penyeimbangan yang dilakukan secara subyektif sehingga dapat menyeimbangkan keduanya. Namun penyeimbangan ini tergantung pada paradigma dari institusi tersebut.

Union Internationale des Architects (UIA), persatuan arsitek-arsitek internasional, menuntut kemampuan profesional seorang arsitek dengan kriteria kinerja profesionalisme yang tinggi. Kriteria ini terdiri atas tiga tingkat kemampuan dengan tiga puluh tujuh butir materi. Butir-butir ini diberlakukan menimbang tugas dari seorang arsitek bukan hanya sekedar mendesain bangunan, tetapi perlu diingat bahwa dimulai dari proses perancangan sampai konstruksi dan penyempurnaan tahap akhir, si arsitek sering diminta untuk terus terlibat. Hubungan yang erat antara karya arsitektur dengan lingkungan hidup di sekitarnya serta keamanan dan kenyamanan manusia juga perlu diperhatikan.

Ada beberapa ketentuan mengenai standar profesionalisme arsitek yang ditentukan oleh UIA. Yang pertama adalah mengikuti pendidikan untuk menjadi arsitek profesional selama lima tahun, bila di Indonesia yaitu program strata satu/S1). Yang kedua adalah menjalani magang di kantor selama minimal dua tahun. Selanjutnya adalah mampu melewati kualifikasi kompetensi dengan penguasaan tiga belas pengetahuan dan kemampuan dasar arsitektural.

Hal semacam ini juga dijalankan oleh Royal Institute of British Architect (RIBA), asosiasi arsitek Inggris, namun dengan cara yang sedikit berbeda. Di Inggris, program pendidikan (full time course in architecture) dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, apabila ditempuh secara normal, dapat diselesaikan selama tiga tahun dan mereka yang telah lulus tahap ini akan mendapatkan gelasr kehormatan, untuk selanjutnya meneruskan dengan satu tahun pengalaman magang. Pada bagian kedua, peserta yang telah menyelesaikan akan mendapat gelar Diploma atau Bachelor of Architecture, di bagian yang berlangsung selama dua tahun ini sering diberlakukan sela waktu antara tahun ketiga dan keempat bagi siswa yang mengambil program magang pada biro konsultan arsitektur yang terdaftar di RIBA. Di bagian ketiga, siswa menyelesaikan ujian praktek professional (Professional Practice Examination), yang sering berlangsung paruh-waktu selama periode kedua pemagangan. Setelah semua itu, di akhir masa tujuh tahun, siswa diperkenankan mendaftar secara resmi sebagai arsitek melalui Architects Registration Council of the United Kingdom (ARCUK) dan mengajukan keanggotan pada asosiasi professional yang diakui RIBA.

Sedangkan American Institute of Architects (AIA) sebagai asosiasi profesi arsitek di Amerika Serikat memiliki cara yang berbeda dengan UIA dan RIBA. Di sini terdapat National Council of Architectural Registration Boards (NCARB) yaitu dewan yang bertugas memantau anggota AIA dalam menjalankan profesinya sebagai arsitek; serta menjaga keamanan, kesehatan dan kesejahteraan public yang dilayani oleh arsitek. Gelar arsitek profesional itu sendiri hanya diberikan kepada para lulusan yang berasal dari sekolah arsitektur yang telah mendapat akreditasi dari National Architectural Accrediting Board (NAAB). Untuk memperoleh lisensi atau sertifikasi profesi, maka diperlukan juga adanya pengalaman kerja dengan periode tertentu dan sesudah itu harus mengikuti ujian profesi yang dilaksanakan oleh Architect Registration Examination (ARE).

Karena Indonesia dikelilingi oleh negara-negara yang berbasis RIBA, misalnya Malaysia, Singapura serta Australia dengan Royal Australian Institute of Architects (RAIA)-nya yang juga bermula dari RIBA, maka pembahasan mengenai sistem dan metode yang digunakan oleh baik UIA maupun RIBA perlu sedikit dibahas. Karena tanpa sertifikasi sebagai pengakuan kompetensi internasional yang diberikan oleh asosiasi setempat maka seorang arsitek tidak mempunyai hak untuk berpraktik di negara lain tersebut.

Selain itu, Indonesia juga merupakan salah satu dari sembilan puluh delapan negara anggota UIA di Region IV (Asia dan Australia), maka menjadi wajib baginya untuk mengikuti kualifikasi yang telah ditetapkan secara internasional, untuk mempersiapkan arsitek-arsiteknya bersaing di kancah internasional. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sistem pendidikan di Indonesia untuk program strata satu diberlakukan secara umum oleh Departemen Pendidikan Nasional hanya berlangsung selama empat tahun, padahal tuntutan dari UIA adalah minimal lima tahun pendidikan universitas. Bila dibandingkan, dengan ketentuan 144-160 sks selama menjalani program strata satu tentunya dianggap tidak memenuhi standar internasional. Karena sejak pemadatan kurikulum ini diberlakukan pada enam tahun yang silam, terjadilah banyak pemangkasan beberapa mata kuliah dan studio.

Seyogyanya, kurikulum pendidikan arsitektur empat tahun yang kini berlaku di Indonesia disesuaikan menjadi lima tahun seperti yang dituntut oleh UIA, sehingga studio perancangan arsitektur dapat dilaksanakan selama sepuluh semester secara berkesimbungan dan menjadi tulang punggung pendidikan arsitektur. Kemudian setelah itu baru pendidikan lima tahun tersebut dilanjutkan dengan magang minimal dua tahun setelah lulus. Namun sayangnya, hal ini masih berupa wacana yang terus diperbincangkan. Beberapa institusi pendidikan arsitektur mencoba menyelesaikan permasalahan ini dengan mengadakan program penambahan satu tahun yang sempat terdengar dengan nama pendidikan profesi.

Sistem penambahan satu tahun ini diserahkan kepada masing-masing institusi pendidikan oleh legitimasi yang dilakukan oleh IAI dan Departemen Pendidikan Tinggi (Depdikti) dengan cakupan 20-40 sks. Setelah lulus program penambahan ini, seseorang akan memperoleh gelar Sarjana Arsitektur. Kemudian untuk mendapatkan lisensi profesi IAI, seorang sarjana arsitektur tadi harus mengikuti ujian yang dilakukan oleh Dewan Keprofesian Arsitek yang bisa diambil apabila telah menjalani proses pemagangan selama minimal dua tahun. Jenis keanggotaan yang diterima pada tahap ini adalah keanggotan biasa atau lisensi tingkat C. Setelah melewati tahun ke empat, baru dilakukan penilaian lagi untuk memperoleh lisensi tingkat B melalui evaluasi oleh Dewan Keprofesian Arsitek dan Dewan Lisensi Arsitek. Pada tahun ke delapan, akan dilakukan penilaian lagi untuk memperoleh rekomendasi IAI untuk tingkat A.

Namun program penambahan ini dipandang seakan-akan diadakan hanya untuk sekedar memenuhi tuntutan formal yang diminta UIA, sehingga akhirnya muncul isu baru, mengapa program ini tidak langsung saja dimasukkan ke sistem pendidikan sebelumnya, yaitu sistem pendidikan empat tahun, sehingga bisa genap menjadi pendidikan arsitektur lima tahun dengan sistem studio perancangan arsitektur yang bisa lebih komprehensif.

Para lulusan dari sistem pendidikan saat ini yang masih menggunakan sistem empat tahun pun sangat dianjurkan untuk menjalani program magang di biro arsitektur agar dapat mempelajari lebih banyak dan mengenal lebih luas dunia keprofesian arsitektur, sehingga menjadi semacam latihan dan gambaran nyata bagi para lulusan baru bagaimana dunia arsitektur itu. Kemudian setelah pemagangan ini, serentetan proses pengujian kualifikasi diadakan sebelum seorang lulusan baru tersebut dapat berprofesi sebagai arsitek professional.

Sertifikasi ini adalah proses penilaian untuk mendapatkan pengakuan atas kompetensi dan kemampuan dari seseorang, untuk memenuhi persyaratan peraturan perundangan sebelum memperoleh lisensi/SIBP, atau yang saat ini disebut dengan Surat Ijin Pelaku Teknis Bangunan (SIPTB). Dalam hal ini sertfikasi yang dimaksud adalah Sertifikat Keahlian Arsitek (SKA), dan peraturan perundangan adalah Undang-Undang Jasa Konstruksi no. 18 tahun 1999 dan PP no. 28, 29 & 30 tahun 2000. Proses ini sendiri bukanlah merupakan sesuatu hal yang berat untuk diraih oleh para calon arsitek profesional tersebut, tetapi tetap ada standar kompetensi sebanyak tiga belas butir kemampuan dasar yang harus dimiliki arsitek profesional. Kemampuan-kemampuan dasar inilah yang akan menjadi panduan penilaian terhadap permohonan sertifikasi. Tiga belas butir ini diturunkan dari 37 kemampuan dasar yang harus dikuasai fresh graduate menurut standar AIA, badan ikatan profesi arsitek Amerika Serikat.

Ketiga belas butir tersebut antara lain adalah:

  1. Kemampuan untuk menghasilkan rancangan arsitektur yang memenuhi ukuran estetika dan persyaratan teknis, dan yang bertujuan melestarikan lingkungan. (Ability to create architectural designs that satisfy both aesthetic and technical requirements, and which aim to be environmentally sustainable)
  2. Pengetahuan yang memadai tentang sejarah dan teori arsitektur termasuk seni, teknologi dan ilmu-ilmu pengetahuan manusia. (Adequate knowledge of the history and theories of architecture and related arts, technologies, and human sciences)
  3. Pengetahuan tentang seni dan pengaruhnya terhadap kualitas rancangan arsitektur. (Knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design)
  4. Pengetahuan yang memadai tentang perancanaan dan perancangan kota serta ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses perancanaan itu. (Adequate knowledge on urban design, planning, and the skills involved in the planning process)
  5. Mengerti hubungan antara manusia dan bangunan, dan antara bangunan dan lingkungannya, serta kebutuhan/niat menghubungkan bangunan-bangunan dengan ruang di antaranya untuk kepentingan manusia dan skalanya. (Understanding of the relationship between people and buildings and between buildings and their environments, and of the need to relate spaces between them to human needs and scale)
  6. Pengetahuan yang memadai tentang cara mencapai perancangan yang dapat mendukung lingkungan yang berkelanjutan. (An adequate knowledge of the means of achieving environmentally sustainable design)
  7. Mengerti makna profesi dan peran arsitek dalam masyarakat terutama pada hal-hal yang menyangkut kepentingan masalah-masalah sosial. (Understanding of the profession of architecture and the role of sarchitects in society, in particular in preparing briefs that account for social factors)
  8. Mengerti persiapan untuk sebuah pekerjaan perancangan dan cara-cara pengumpulan data. (Understanding of the methods of investigation and preparation of the brief for a design project)
  9. Mengerti masalah-masalah perancangan struktur, konstruksi dan enjinering yang berhubungan dengan rancangan bangunan. (Understanding of the structural design, construction, and engineering problems associated with building design)
  10. Pengetahuan yang memadai tentang masalah fisika bangunan, teknologi dan fungsi bangunan dalam kaitannya dengan kenyamanan bangunan dan perlindungan terhadap iklim. (Adequate knowledge of physical problems and technologies and of the function of buildings so as to provide them with internal conditions of comfort and protection against climate)
  11. Memiliki ketrampilan merancang yang memenuhi kebutuhan bangunan dalam batas-batas yang diberikan oleh anggaran biaya dan peraturan bangunan. (Necessary design skills to meet building user�s requirements within the constraints imposed by cost factors and buildign regulations)
  12. Pengetahuan yang memadai tentang industri, organisasi, dan prosedur dalam penerjemahan konsep rancangan menjadi wujud bangunan serta menyatukan rencana ke dalam suatu perencanaan menyeluruh. (Adequate knowledge of the industries, organizations, regulations, and procedures involved in translating design concepts into buildings and integrating plans into overall planning)
  13. Pengetahuan yang memadai mengenai pandangan manajemen proyek dan pengendalian biaya. (Adequate knowledge of project financing, project management and cost control)

Dengan kata lain, selama proses magang yang dijalaninya begitu ia lulus, seorang lulusan baru dari pendidikan arsitektur tidak serta merta dapat memiliki sertifikat. Dan apabila ia ingin ke depannya dapat bekerja secara professional di bidang arsitektur, maka pada proses magangnya ia harus bekerja pada sebuah tempat dimana ia dapat bertugas melakukan proses desain seperti tugas seorang arsitek. Karena IAI hanya memberikan Sertifikat Keahlian Arsitek kepada sarjana arsitektur yang bekerja sebagai arsitek-designer (yang umumnya bekerja di biro arsitek). Ada banyak pilihan yang bisa dipilih oleh para lulusan sarjana arsitektur baru tersebut, di antaranya adalah dengan menjadi drafter pada biro konsultan atau pada arsitek yang lebih senior, bekerja pada developer menjadi in-house arsitek, menjadi dosen, menjadi PNS pada bidang terkait bangunan gedung, dll.

Namun setelah melewati proses pemagangan dan telah memiliki lisensi atau SIPTB (Surat Ijin Pelaku Teknis Bangunan) maka pilihan baginya akan semakin besar terbuka, yaitu dapat memilih untuk berpraktek sendiri dengan membuka biro. Hal ini telah dapat dilakukan karena dengan adanya lisensi dari asosiasi tersebut, maka ia telah mendapatkan kepercayaan bahwa ia adalah seorang yang ahli di profesi ini.

Isu yang kemudian dihadapi oleh arsitek yang membuka biro adalah pertarungan dengan para profesional lainnya yang berasal dari dunia internasional. Bisakah para arsitek ini, yang baru akan mulai bertugas dengan, kalau bisa dikatakan, studio arsitekturnya?

Ada baiknya bisa sejenak melihat salah satu contoh yaitu HOK Architects Inc, sebuah biro yang dapat dikatakan berhasil dan tetap bertahan setelah sekian lama bermain di kancah dunia profesional arsitektur. HOK Architect didirikan oleh tiga orang, yaitu Helmuth, Obata dan Kassabaum pada tahun 1955 di St. Louis AS. Pada saat itu mereka hanya memperkerjakan 28 orang, namun kemudia perusahaan ini berkembang sangat pesat hingga mampu memperkerjakan 2000 orang yang tersebar di 24 kantor cabang. Sebagai biro arsitektur yang telah lama berdiri dan dinilai cukup sukses sehingga dinobatkan menjadi firma arsitektur terbesar di dunia, ada beberapa poin penting yang dilakukan dalam rangka menghadapi arus global.

Poin-poin dapat ditinjau bersama sebagai saran praktis sederhana yang bisa disikapi dengan baik dari perspektif professionalisme arsitektur. Yang pertama adalah dengan mulai aktif membangun jaringan, baik dengan pihak luar negeri maupun dengan para kolega di daerah-daerah yang potensial. Kemudian melebarkan jangkauan pasar dengan memperbesar divisi marketing secara agresif melalui berbagai media potensial agar arsitektur dapat dilihat sebagai bisnis yang terus berkelanjutan. Teknologi informasi yang hingga saat ini sudah berkembang begitu pesatnya dapat menjadi alat bantu sebagai sarana marketing, publikasi, komunikasi dll. Untuk itu pemberdayaan komputer semaksimal mungkin. Menggunakan standar-standar tertentu misalnya dalam pengerjaan drafting menggunakan software AutoCAD, akan sangat membantu dalam hal kecepatan kerja dan mengoptimalkan delivery time. Di masa depan kinerja profesionalitas kerja akan diukur dari kecepatan dan keoptimalan delivery time ini. Poin lain yang tidak kalah pentingnya adalah dengan mencoba berkonsentrasi pada kekuatan desain yang dimiliki dan mengenali pangsa pasar yang paling diminati. Demikian, agar para professional setidaknya dapat lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi dunia profesional internasional.

Saat ini kita sedang menghadapi sesuatu bernama free trade zone. Maka, para arsitek asing akan membanjiri Indonesia lagi dan lagi, menyusul arus masuk rekan-rekan mereka yang sudah mulai berkarya di pelosok Nusantara sebelumnya. Karena akan semakin banyak proyek perencanaan dan konstruksi yang dipercayakan untuk dikerjakan oleh perusahaan internasional. Karena sentimen-sentimen lokal telah dikalahkan oleh profesionalisme dalam menjadi tolak ukur yang global. Arsitek Indonesia tentu saja tidak ingin kalah menghadapi dunia profesi internasional terutama di dalam negeri kita sendiri, untuk itu perlu baik para arsitek senior maupun calon arsitek yang masih berada di jenjang pendidikan dapat dipersiapkan dengan baik dengan sejak awal.

Hal ini tentu tidak hanya dibebankan kepada IAI sebagai ikatan profesi saja, karena sejauh ini dalam hal menggiatkan diadakannya sertifikasi sebagai salah satu cara meningkatkan kinerja profesionalitas di bidang arsitektur ini. Hal lain yang sebaiknya dilakukan adalah diadakannya kerjasama antara IAI dan institusi pendidikan arsitektur dalam mengakreditasi sistem pendidikan arsitektur di Indonesia sehingga pelaksana pendidikan arsitektur bisa lebih menyadari dan tidak terjebak pada kuantitas lulusan saja melainkan pada kualitas. Persiapan peneluran calon arsitek sebaiknya dilakukan dengan pembekalan pendidikan yang kondisional dan proporsional, sehingga setelah lulus dari pendidikan arsitektur di tingkat perguruan tinggi, para calon arsitek ini dapat langsung beradaptasi dan belajar kembali dengan baik pada proses pemagangan minimal dua tahun itu.

Dimulai dari sini, arsitek dan bidang arsitektur Indonesia dalam menghadapi dunia profesi internasional tidak lagi tergagap-gagap dalam memenuhi standar yang berlaku di tatanan dunia global internasional tentang performa profesionalisme.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, IAI telah cukup mempersiapkan proses sertifikasi dan penerbitan lisensi arsitek Indonesia di berbagai tempat. Selanjutnya, langkah nyata yang sedang giat diperjuangkan adalah adanya Architect Act sebagai undang-undang yang mengatur lingkup kerja arsitek, yang diberlakukan secara lokal, sehingga seorang arsitek tak dapat berpraktik tanpa sertifikat setempat. Hal ini akan memperkuat posisi arsitek Indonesia dalam menghadapi persaingan dengan dunia profesi internasional di dalam negeri kita sendiri. Namun isu lainnya yang masih harus dipikirkan ke depannya adalah bagaimana kinerja profesionalisme kita bila dibawa ke luar dan dibandingkan dengan standar performa profesional yang mereka miliki. Sudah siapkah kita, arsitek Indonesia, memasuki dunia profesi internasional dengan standar yang sejauh ini belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh baik sistem pendidikan arsitektur kita maupun oleh ikatan asosiasi?

Sumber pustaka:

1. Architecture, A Profession for the Future, (www.he.courses-careers.com/architecture.htm)
2. Johannes Widodo, “Pendidikan Arsitektur Indonesia : Masa Transisi” dipublikasikan di website Desain!Arsitektur, (http://darsitektur.tripod.com/art4.html)
3. Martin Luqman Katoppo dan Tony Sofian, “Pendidikan Arsitektur yang Membebaskan dan Memanusiakan”, dipublikasikan di website Desain!Arsitektur, (http://darsitektur.tripod.com/art3.html)
4. Membangun Filsafat Arsitektur, (http://www.unhas.ac.id/~rhiza/mystudents/debbie/arsitek.html )
5. M. Ridwan Kamil, “Arus Kapitalisme Global dan Masa Depan Arsitektur Indonesia” dipublikasikan di website Desain!Arsitektur. (http://darsitektur.tripod.com/art6.html)
6. Website Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) (www.iai.or.id)
7. Yulianti Tanyadji, “Menera Pendidikan Arsitektur Indonesia : Tuntutan, Tekanan dan Tergagap-gagap”, dipublikasikan di website Desain!Arsitektur (http://darsitektur.tripod.com/art5.html)
8. Ilmu, Teknologi Dan Seni Dalam Arsitektur (http://www.gunadarma.ac.id/~jbptgunadarma-gdl)
9. The Architect, Spiro Kostof , Oxford University Press 1977

Continue Reading...

Minggu, 17 Oktober 2010

Rumah Kindah

Rumah Kindah oleh Budi Pradono Architects


Bangunan kantor yang diberi nama Rumah Kindah ini merupakan karya terbaru dari Budi Pradono Architects. Bangunan yang berlokasi di jalan Lenteng Agung Jakarta ini menempati lahan seluas kurang lebih 490 m2. Sekilas tampak kurang ramah jika dilihat dari luar karena bentuknya yang seperti benteng beton. tapi tampaknya bentuk ini dapat dipahami berhubung di depan bangunan terdapat jalur kereta api yang masih aktif sampai sekarang. Sehingga fasad depan pun didesain dengan sedikit bukaan.

Bangunan dengan kombinasi material beton dan kaca ini mempunyai sebuah courtyard sebagai area utama (datum) kantor ini. Fungsi utama seperti ruang rapat pun diletakkan di area ini. Tepatnya di bawah stage courtyard.


Material beton yang cukup mendominasi dicoba diseimbangkan dengan material kaca agar kesan bangunannya tidak terlalu berat. Elemen arsitekturnya pun banyak yang dibuat dengan kesan melayang sebagai kesan bangunan yang ringan. Mulai dari plafond, tangga sampai plat lantai. Sobekan-sobekan kaca memberi sentuhan menarik pada dinding beton rumah Kindah ini. Sobekan ini juga sangat fungsional dalam hal menjawab keinginan klien yang ingin dapat melihat keseluruhan suasana kantor dari berbagai angle.

Desain dengan pola grid sangat terasa pada bangunan ini. Aplikasinya bisa terlihat pada garis-garis triangulate yang tegas pada bangunan, pola desain lansekap, bahkan sampai pola lantainya.


Overall, selalu membuat saya terkesan untuk melihat karya-karya arsitek (Indonesia) yang sangat progresif (terlepas dari finishing teknisnya yang kurang rapih.. :D)



Dampak negatif dari bangunan ini terhadap lingkungan:
  • Penggunaan bahan bangunan berat dalam jumlah yang berlebih berdampak buruk berupa pemanasan lingkungan karena bahan bangunan berat menerima, menyerap dan melepaskan kembali kalor yang diterima sehingga menaikkan temperatur udara.
Dampak positif dari bangunan ini terhadap lingkungan:
  • Bangunan ini memiliki 65 % RTH ( Ruang Terbuka Hijau ), sehingga sebagai persediaan air tanah yang dapat memenuhi kehidupan bagi manusia dan makhluk lainnya.
Continue Reading...

Sabtu, 12 Juni 2010

BUKAAN RUANG

Bukaan yang ideal akan membawa udara segar yang ada di lingkungan sekitar masuk ke dalam. Udara panas di dalam pun tergantikan hingga membentuk sirkulasi. Bukaan membuat ruang “bernafas”. Yang patut diperhatikan adalah proses aliran udara.Tidak ada kontinuitas ruang maupun visual yang mungkin terjadi dengan ruang-ruang di sekitarnya tanpa adanya bukaan pada bidang-bidang penutup suatu daerah ruang.

A. Pintu-pintu memberikan jalan masuk dalam ruang dan menentukan pola gerak serta penggunaan ruang di dalamnya.
B. Jendela-jendela memasukan cahaya ke dalam nuang, menawarkan pemandangan ke arah luar, mebangun hubungan visual antara suatu ruang dengan nuang-ruang yang bendekatan, serta membenikan ventilasi alamiah dalam ruangan.Kontinuitas dengan ruang-ruang di dekatnya tergantung pada ukuran, jumlah, dan penempatan bukaan ruang.Bukaan-bukaan juga mempenganuhi orientasi dan aliran ruang, kualitas pencahayaan, penampilan dan pemandangan, serta pola penggunaan dan pengerakan di dalamnya.
Continue Reading...